Niat Puasa di Bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan sebentar lagi tiba. Di bulan yang penuh berkah ini semua orang Islam diwajibkan untuk puasa Ramadhan. Namun, tidak semua orang Islam wajib melakukan rukun Islam yang keempat ini, karena ada syarat wajib yang harus dipenuhi terlebih dahulu. Syarat wajib tersebut adalah sudah mencapai usia baligh, berakal, bagi wanita bersih dari haid maupun nifas serta sanggup menunaikan ibadah puasa.

Niat Puasa di Bulan Ramadhan
via bersamadakwah.net

Ketika seorang muslim sudah memenuhi syarat wajib seperti di atas, itu berarti orang tersebut harus melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan yang terdiri dari 2 rukun, yakni niat berpuasa dan menahan diri dari berbagai hal yang membatalkannya.

Kapan Niat Puasa Bulan Ramadhan Diucapkan dan Bagaimana Jika Niat ini Sampai Terlupa?

Bisakah niat berpuasa ini hanya diucapkan ketika awal bulan Ramadhan saja untuk sebulan penuh? Mengenai hal ini, ada perbedaan pendapat diantara ulama fiqh. Ada ulama yang berpendapat bahwa hal tersebut tidak boleh dengan dasar bahwa puasa ini adalah ibadah tersendiri yang tidak ada kaitannya dengan puasa di hari sebelumnya ataupun puasa di hari sesudahnya.

Ada pula ulama yang memperbolehkan hal tersebut, hanya mengucapkan niat sebanyak 1 kali saja di awal bulan Ramadhan. Pendapat ini didasari oleh penilaian bahwasanya ibadah puasa selama penuh di bulan Ramadhan itu adalah suatu kesatuan, makanya pantas bila disebut sebagai satu bentuk ibadah. Jika Anda lebih berpegangan pada pendapat yang kedua, maka lafadz niatnya menjadi seperti berikut ini:

NAWAITU SHOUMA SYAHRI ROMADLOONA KULLIHI LILLAHI TA’ALA

Artinya: Saya berniat puasa selama 1 bulan penuh di bulan Ramadhan karena Allah Ta’ala

Meski ada ulama yang memperbolehkan hal tersebut, namun sebagai bentuk kehati-hatian, alangkah lebih baiknya bila kita mengikuti pendapat yang pertama sebelumnya. Lalu, jika ada persolan seorang muslim kelupaan membaca niat, bagaimanakah hukumnya? Bolehkah membacanya setelah teringat, yang bisa saja saat pagi hari atau bahkan siang hari?

Menanggapi persoalan tersebut, mari coba simak sejenak beberapa pendapat yang ada di bawah ini:

  1. Pendapat dari Madzhab Hanafi

Berdasarkan pada madzhab Hanafi, dijelaskan bahwasanya niat puasa apapun, hendaknya dilakukan bersamaan dengan terbitnya fajar, karena di waktu inilah ibadah puasa tersebut dimulai. Apabila niat ini dilakukan setelahnya, maka semua jenis puasa wajib yang bersifat sebagai tanggungan, maka puasanya tidak sah.

Karenanya madzhab ini berpendapat bahwa niat harus dilakukan di malam hari. Tetapi ketentuan ini berbeda pada saat kita mengerjakan puasa wajib yang pelaksanaannya hanya di waktu-waktu tertentu saja seperti bulan Ramadhan, maka niatnya boleh dilakukan setelah fajar hingga sebelum tiba waktu dzuhur.

  1. Madzhab Malikiyah

Madzhab ini berpendapat bahwasanya niat dianggap sah untuk segala jenis puasa, apabila niat ini dilakukan di malam hari ataupun bersamaan dengan waktu terbitnya fajar. Tetapi jika seseorang melakukan niat sebelum matahari terbenam di hari sebelumnya, atau melakukan niat sebelum matahari tergelincir di hari dia berpuasa, maka puasanya tersebut dianggap tidak sah, sekalipun itu puasa sunnah.

  1. Madzhab Syafi’iyah

Madzhab ini berpendapat bahwa semua jenis puasa yang sifatnya wajib, termasuk puasa Ramadlan, niatnya harus dilakukan saat malam hari. Sementara untuk puasa sunnah, niatnya ini bisa dilakukan pada malam hari hingga sebelum tergelincir matahari.

  1. Madzhab Hambaliyah

Tidak jauh berbeda dengan pendapat madzhab Syafi’iyah, madzhab Hambaliyah juga memiliki pendapat bahwasanya niat itu harus dilakukan pada malam hari dan ini berlaku untuk segala jenis puasa yang sifatnya wajib. Sementara untuk puasa sunnah, madzhab ini memiliki pendapat sendiri, yaitu niat bisa dilakukan sekalipun waktu dzuhur sudah lewat, asalkan belum makan atau minum apapun sejak fajar.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *