kiki widyasari instagram
Categories:

Gajah Mada dan Kematian Jayanegara

Pada tahun 1328, sembilan tahun setelah pemberontakan Kuti, Jayanagara mati di tangan Tanca, seorang dharmaputera.

Cerita pembunuhan itu bermula pada 1328, saat Tanca yang juga seorang tabib diminta mengoperasi bisul yang diderita Jayanagara.

Dalam operasi bisul yang ketiga kalinya itu Tanca menikam Jayanagara di tempat tidurnya.

Gajah Mada yang menunggu di samping raja segera bangkit menusuk Tanca dan mati seketika itu juga.

Namun peristiwa pembunuhan itu masih simpang siur.

Ada beberapa versi sejarah tentang siapa sang pembunuh dan apa motifnya.

1. Versi pertama dari Slamet Muljana dalam Tafsir Sejarah Nagara Kretagama, menyebutkan bahwa Jayanagara dilanda rasa takut kehilangan takhtanya sehingga ia pun melarang kedua adiknya, yaitu Dyah Gitarja (Tribhuwana Tunggadewi) dan Dyah Wiyat (Rajadewi Maharajasa) menikah karena khawatir iparnya bisa menjadi saingan.

Bahkan muncul desas-desus kalau kedua putri yang lahir dari Gayatri itu hendak dinikahi oleh Jayanagara sendiri.

Desas-desus itu disampaikan Ra Tanca kepada Gajah Mada yang saat itu sudah menjadi abdi kesayangan Jayanagara.

Ra Tanca juga menceritakan tentang istrinya yang diganggu oleh Jayanagara.

Namun Gajah Mada seolah tidak peduli pada laporan tersebut dan tidak mengambil tindakan apa-apa.

Tanca pun menunggu kesempatan yang baik. Kebetulan Raja Jayanagara yang menderita bisul menghendaki pembedahan kepadanya.

Momen mengobati sang raja pun digunakan Tanca sebagai jalan untuk membunuhnya di tempat tidur.

2. Versi kedua lain menurut arkeolog Belanda N.J. Krom dalam Hindoe-Javaansche Geschiedenis, sebagaimana dikutip Parakitri T. Simbolon dalam Menjadi Indonesia, istri Tanca menyebarkan berita bahwa dirinya dicabuli Jayanagara.

Mendengar hal itu Gajah Mada malah balik menuduh dan mengadukan Tanca menebarkan fitnah.

3. Versi lain yang lebih menyentak, tulis Parakitri T. Simbolon, “menurut N.J. Krom lagi, dalam tradisi Bali disebutkan bahwa justru Gajah Mada yang menjadi otak pembunuhan tersebut.

4. Versi terakhir diutarakan oleh Muhammad Yamin dalam Gajah Mada Pahlawan Persatuan Nusantara,menyebut bahwa Tanca terus-menerus merasa tak senang pada raja atas kejadian yang menimpa Kuti, kawan Tanca sesama dharmaputera.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *