Temenngaji
Categories:

Masalah Wanita di Bulan Ramadhan

Ramadhan adalah bulan penting bagi masyarakat umat muslim diseluruh dunia.

Ramadhan menjadi ajang setiap orang untuk berlomba dalam mengumpulkan amal sebagai bekal di akhirat nanti.

Tapi disaat semua orang sedang berlomba-lomba dalam beramal, taukah kamu hal hal yang menjadi problem bagi seorang wanita ketika bulan Ramadhan ?

Berikut adalah penjelasannya.

6 Masalah Wanita ketika Bulan Ramadhan

1. Puasa Wanita Hamil & Menyusui

Menurut Syaikh Muhammad bin Shalih Al- ‘Utsaimin rahimahullah bahwa wanita yang sedang hamil atau menyusui itu di ibaratkan sebagai seoarang yang sedang sakit dan musafir dimana mereka memiliki kewajiban untuk meng qadha’ saja puasa yang di tinggalkannya, (tanpa membayar fidyah).

Kewajiban qadha’ sebagaimana yang disampaikan oleh ‘Atha bin Abi Rabbah dan Imam Abu Hanifa inilah yang menjadi pendapat paling kuat oleh para Ulama.

Karena seorang yang hamil dan menyusui masih masuk kedalam firman Allah yang berbunyi :

وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.”

QS. Al-Baqarah: 185

2. Mendapati Haidh & Flek saat Puasa

Bagi wanita yang mendapati dirinnya Haidh padahal dirinnya sedang menjalankan puasa, maka otomatis puasannya batal.

Karena Haidh menjadi salah satu penyebab pembatal puasa, maka orang tersebut harus meng qadha’ puasa tersebut sebanyak yang ia tinggalkan.

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya perihal  sebab kekurangan agama bagi seorang waanita wanita, beliau berkata :

أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ

Bukankah wanita jika haidh tidak shalat dan tidak puasa?

HR. Bukhari, no. 304; Muslim, no. 79

Selaon itu seorang wanita dari Mu’adzah juga pernah bertanya kepada ‘Aisyah mengenai meng qadha puasa ketika didapati seorang wanita Haidh, dan Aisyah menjawab,

كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ

Kami dahulu juga mengalami haid, maka kami diperintahkan untuk mengqadha’ puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha’ shalat.”

HR. Muslim, no. 335

Lalu bagaimana apabila mendapati Flek saja bukan Haidh ? Maka hal ini dijelaskan oleh Syaikh As-Sa’di dalam kitab Manhaj As Salikin bahwa beliau menyimpulkan :

  1. Apabila Flek yang keluar pada masa kebiasaan haidh sebelum darah haidh keluar, lalu ditambah nyeri maka itu dihitung sebagai darah haidh.
  2. Apabila flek yang keluar diluar masa kebiasaan haidh, maka dianggap itu bukan darah haidh.
  3. Flek yang keluar setelah darah haidh dan masih bersambung, maka itu juga di anggap sebagai Darah Haidh.
  4. Flek yang keluar setelah bersuci (atau meyakini bahwa darah haidh telah berhenti total), namun setelah bersuci dengan mandi besar dan keluar flek lagi, maka itu bukan Darah Haidh.

Kata beliau Syaikh As-Sa’di dalam kitab Manhaj As Salikin bahwa yang dianggap Haidh  maka tidak boleh berpuasa & shalat.

Namun yang bukan dianggap sebagai darah haidh tetap diperintahkan berpuasa & shalat.

3. Menggunakan Obat Penghalang Haidh 

Karena begitu banyak kemuliaan bulan Ramadhan diantaranya adalah dilipat gandakannya segala amal perbuatan sebagai mana yang dilansir dari media Temenngaji.com.

Maka tak jarang banyak wanita muslimah yang menggunakan obat-obat untuk menghalangi Haidh dan bisa lancar berpuasa Ramadhan.

Syaikh Abu Malik yaitu seorang pnulis kitab Shahih Fiqh As Sunnah beliau menjelaskan :

“Haidh adalah suatu ketetapan Allah bagi kaum wanita, Para Wanita di masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menyusahkan dirinya untuk memaksa berpuasa selama satu bulan penuh di bulan Ramadhan.

Maka dari itu kata beliau, menggunakan obat-obatan untuk menghalangi Haidh itu tidak dianjurkan.

Akan tetapi, jika seorang wanita Muslimah hendak menggunakan obat-obatan untuk menghalangi Haidh, maka itu tidak mengapa.

Asalkan obat-obatan tersebut tidak menimbulkan efek samping atau dampak negativ untuk dirinnya, Wallahu a’lam. 

4. Belum Bersuci sampai Masuk Waktu Shubuh

Terkadang seorang wanita yang telah selesai masa Haidhnya mereka lupa untuk segera bersuci atau mandi junub agar bisa melanjutkan puasa ramadhan.

Namun wanita yang lupa karena belum mandi junub padahal sudah masuk waktu shubuh, maka tetap dirinnya harus berpuasa.

Karena yang terpenting adalah sudah suci, adapun menunda mandi itu tidak mengapa, dalilnya :

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika dalam keadaan junub saat Shubuh.

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,

قَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُدْرِكُهُ الْفَجْرُ فِى رَمَضَانَ وَهُوَ جُنُبٌ مِنْ غَيْرِ حُلُمٍ فَيَغْتَسِلُ وَيَصُومُ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjumpai waktu fajar di bulan Ramadhan dalam keadaan junub bukan karena mimpi basah, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi dan tetap berpuasa.”

HR. Muslim, no. 1109

Adapun dalil lainnya seperti firman Allah didalam Qur’an Surah Al Baqarah :

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ فَالْآَنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ

Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma’af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu.”

QS. Al-Baqarah: 187

5. Berbuka dalam Keadaan Ragu Keluar Haidh

Sering terjadi banyak diantara wanita muslimah yang ketika dirinnya selesai berbuka puasa, mendapati dirinya keluar darah haidh.

Sehingga dirinnyapun merasa ragu, bahwa darah haidh ini keluar sebelum masuk waktu berbuka puasa atau setelah masuk waktu berbuka puasa.

Dalam keadaan demikian, jawabannya adalah pegang yang Yakin dan tinggalkan segala yang ragu ragu.

Adapun penjelasannya sebagai berikut :

Setiap yang meragukan dianggap tidak ada, setiap hal yang diragukan kapan munculnnya maka hukumnya tidak ada, sebab itu maka sesuatu yang tidak ada tidak dikenakan hukum ketika itu. (Anwar Al-Buruq fi Anwa’ Al-Furuq, 4:94, Asy-Syamilah)

Begitu pula perkara Haidh ini, maka apabila seorang wanita mengambil kesimpulan keyakinan bahwa darah haidh yang keluar itu setelah masuk waktu berbuka puasa, maka tidak ada kewajiban baginnya untuk meng qadha puasa, karena puasannya tetap sah.

6. Shalat Terawih bagi Muslimmah

Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُ مَسَاجِدِ النِّسَاءِ قَعْرُ بُيُوتِهِنَّ

Sebaik-baik masjid bagi para wanita adalah di bagian dalam rumah mereka.”

(HR. Ahmad, 6: 297. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan dengan berbagai penguatnya)

Namun apabila seorang wanita muslimah hendak melaksanakn shalat berjamaah di Masjid dengan memperhatikan aturan seperti menutup aurat, tidak memakai wangi wangian, maka itu tidak masalah.

Dari Salim bin ‘Abdullah bin ‘Umar bahwasanya ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

لاَ تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمُ الْمَسَاجِدَ إِذَا اسْتَأْذَنَّكُمْ إِلَيْهَا

Janganlah kalian menghalangi istri-istri kalian untuk ke masjid. Jika mereka meminta izin pada kalian maka izinkanlah dia.”

HR. Muslim, no. 442

Demikian informasi yang bisa kami sampaikan perihal problem-problem atau masalah yang sering ditemui oleh seorang wanita ketika dibulan Ramadhan.

Semoga bermanfaat.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *