Upacara Adat Jawa Timur
Categories:

29 Upacara Adat Jawa Timur Yang Patut Dipelajari

Jawa Timur adalah salah satu provinsi besar di Indonesia, sehingga memiliki banyak adat istiadat tradisional yang sudah turun temurun dilakukan. Salah satu proses adat yang sering dilakukan, terangkum seperti 29 upacara adat Jawa Timur berikut ini.

29 Upacara Adat Jawa Timur beserta Penjelasannya

Upacara Adat Ritual

1. Upacara Adat Ruwatan

01 Upacara Adat Ruwatan

Acara adat Ruwatan merupakan tradisi adat yang diadakan dengan tujuan menjauhkan diri dari kesialan dan nasib yang tak baik. Upacara ini sendiri, mengandung filosofi atau makna untuk mensucikan diri dari semua hal yang buruk atau hal yang tak diinginkan.

Setiap budaya daerah memang memiliki filosofinya masing-masing, seperti acara Ruwatan ini. Untuk mengetahui berbagai makna budaya lainnya, silakan baca artikelnya secara lengkap di Selasar.com. Contohnya ulasan Tari Pendet berikut.

2. Upacara Adat Kebo-keboan

02 Upacara Adat Kebo-Keboan

Upacara ini terdapat di daerah Banyuwangi, Jawa Timur yang pertama kali diadakan ketika wabah penyakit misterius datang menyerang bersamaan datangnya hama pertanian. Di saat itu, banyak orang yang meninggal mendadak.

Ritual ini muncul pertama kali dari sesepuh setempat yang bernama Mbah karti, yang setelah bersemedi mendapat wangsit atau mimpi supaya melakukan ritual kebo-keboan dengan memuja Dewi Sri.

Dalam waktu singkat, banyak warga yang sakit mendadak jadi sehat setelah diadakan ritual ini. Begitu juga dengan hama tanaman, yang mendadak hilang entah ke mana. Karena itulah, ritual ini kemudian dijadikan tradisi oleh warga setempat, dan muncul perasaan takut dan resah jika meninggalkannya.

3. Upacara Adat Sekaten

03 Upacara Adat Sekaten

Upacara Sekaten biasa diadakan untuk memperingati bulan kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW.

4. Upacara Adat Muludan

04 Upacara Adat Muludan

Acara Muludan adalah adat kebiasaan yang diadakan masyarakat Jawa Timur tiap tanggal 12 bulan Mulud, untuk memperingati kelahiran Nabi SAW. Bedanya dengan Sekaten, ritual Muludan ini hanya diadakan pada tanggal yang sudah ditentukan tersebut dan memiliki tata cara yang tak sama.

5. Upacara Adat Labuh Sesaji

05 Upacara Adat Labuh Sesaji

Warga Telaga Sarangan, Magetan, tiap tahunnya mengadakan ritual khusus yang dinamakan Labuh Sesaji. Ritual ini dilaksanakan tiap bulan Ruwah datang, pada hari Jum’at Pon.

Tujuan diadakannya Upacara Labuh Sesaji ini adalah sebagai wujud syukur kepada Tuhan Maha Esa, karena sudah membuat Telaga Sarangan mampu mendatangkan kemakmuran dan kesejahteraan bagi masyarakat setempat.

6. Upacara Adat Larung Sesaji

06 Upacara Adat Larung Sesaji

Upacara Larung Sesaji umumnya dilakukan oleh warga yang tinggal di sekitar pesisir pantai utara dan selatan Jawa. Ritual ini diadakan dengan cara menghanyutkan sesajian ke laut, sebagai tanda syukur dan terima kasih atas tangkapan ikan selama melaut. Acara ini diadakan setiap kali tanggal 1 Muharram tiba.

7. Upacara Adat Kasada

07 Upacara Adat Kasada

Upacara Kasada merupakan ritual adat yang berasal dari masyarakat Suku Tengger di kawasan Gunung Bromo. Tradisi adat ini diadakan sebagai wujud syukur masyarakat setempat kepada Tuhan yang Maha Esa.

Awal mula diadakannya ritual ini sebenarnya adalah untuk memperingati pengorbanan Raden Kusuma, yang merupakan anak dari Jaka Seger dan Lara Antheng yang jadi leluhur warga setempat. Upacara Kasada diperingati setiap tanggal 14-16 bulan Kasada.

8. Upacara Adat Unan-Unan

08 Upacara Adat Unan-Unan

Upacara Unan-unan juga dilaksanakan oleh Suku Tengger di kaki Gunung Brommo dengan tujuan untuk mengusir makhluk halus jahat serta malapetaka yang bisa membahayakan wilayah desa.

9. Upacara Adat Ruwah Desa

09 Upacara Adat Ruwah Desa

Upacara ini diadakan tiap kali bulan Ruwah, yakni sebelum masuk bulan Ramadhan. Tujuannya adalah untuk mendo’akan arwah nenek moyang, yang sudah membuka dan mendirikan desa. Selain itu, lewat ritual ini juga, diharapkan supaya keselamatan datang menyelimuti warga desa setempat.

10. Upacara Adat Likuran

10 Upacara Adat Likuran

Kebiasan tradisional yang satu ini dilakukan pada hari ke-21 bulan ramadhan, yakni sebagai peringatan Nuzulul Qur’an atau tunnya wahyu Al Qur’an.

11. Upacara Adat Mudunan

11 Upacara Adat Mudunan

Acara adat Mudunan dilakukan tiap kali Hari Raya Idhul Fitri datang, atau tepat pada tanggal 1 Syawal. Tradisi ini dijalankan oleh masyarakat Jawa Timur dalam rangka rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Sebelum upacara ini dilaksanakan, biasanya akan dilakukan acara nyekar terlebih dahulu ke makam-makam para leluhur.

12. Upacara Adat Kasodo

12 Upacara Adat Kasodo

Upacara ini dilakukan tiap tahun pada saat bulan purnama, dengan tujuan untuk meminta panen berlimpah atau meminta tolak bala dan meminta kesembuhan dari berbagai penyakit.

Ritual ini diadakan dengan cara melempar sesajian ke kawah Gunung Bromo, sementara warga Tengger lainnya harus berada di tebing kawah untuk menangkap sesaji yang dilemparkan tersebut.

13. Upacara Adat Grebegan

13 Upacara Adat Grebegan

Upacara Grebegan dilakukan sebagai tanda syukur, yang diadakan tiap kali tanggal 12 Mulud, 1 Syawal, dan tanggal 10 bulan ke-12 Masehi. DAlam ritual ini, seorang raja akan memberi sedekah berupa hasil alam, seperti sayuran dan sejenisnya.

Umumnya, sedekah tersebut akan dibentuk menyerupai bidang kerucut mirip gunung, yang nantinya akan diperebutkan oleh masyarakat yang datang.

14. Upacara Adat Weton

14 Upacara Adat Weton

Weton adalah istilah yang dipakai masyarakat Jawa untuk menyebut hari lahir. Tradisi ini berbeda halnya dengan acara ulang tahun, sebab Upacara Wton diperingati menurut penanggalan Jawa. Tujuannya adalah untuk meminta keselamatan dan kesehatan kepada Tuhan yang Maha Esa.

15. Upacara Adat Nakokake

15 Upacara Adat Nakokake

Nakokake adalah prosesi seorang laki-laki yang mau melamar perempuan pujaannya dengan cara menanyakan kepada orang tua, atau dalam Bahasa Jawa disebut Nakokake. Dalam tradisi ini, ditanyakan kondisi status dari sang gadis, apakah sudah mempunyai pasangan, pendamping, atau masih single. Sekalian juga di dalamnya, diadakan prosesi meminta restu orang tua.

16. Upacara Adat Piningsetan

16 Upacara Adat Piningsetan

Setalah proses Nakoka dilakukan, maka proses selanjutnya adalah Piningsetan, yakni keluarga laki-laki akan datang kepada keluarga perempuan. Acara ini berupa ramah tamah dan acara makan bersama saja, antara keluarga pihak laki-laki dan keluarga pihak perempuan.

Tradisi seperti ini wajib dilakukan sebelum upacara pernikahan digelar, sehingga menjadi momen yang serius bagi kedua calon mempelai.

17. Upacara Adat Slametan (Kenduren)

17 Upacara Adat Slametan

Upacara Kenduren dilakukan oleh masyarakat Jawa Timur sebagai wujud syukur atas kebaikan yang didapatkannya. Selain itu juga, acara ini bisa dilakukan dengan tujuan untuk hal-hal yang bersifat suka atau duka.

18. Upacara Adat Ngurit

18 Upacara Adat Ngurit

Upacara ini dilakukan oleh masyarakat Jawa yang berprofesi menjadi petani. Ritual ini diadakan sebagai bentuk syukur dan do’a, supaya benih yang ditanam tumbuh dengan baik dan subur. Setelah Upacara Ngurit diadakan, barulah beberapa hari kemudian dimulai musim tandur atau musim tanam.

19. Upacara Adat Seblang

19 Upacara Adat Seblang

Upacara Seblang berasal dari istilah sabele ilang atau sialnya hilang, yang merupakan ritaul ritual adat untuk tolak bala masyarakat Suku Using di Banyuwangi. Upacara ini dilakukan setiap hari ke-7 setelah digelarnya Hari Raya Idhul Fitri.

Upacara Adat Kematian

1. Tahlilan

20 01 Tahlilan

Seseorang yang meninggal menurut adat Jawa Timur akan dikirimi do’a dengan cara diadakan Tahlilan. Hal ini dimaksudkan supaya arwah orang tersebut bisa mendapat ketenangan dan diterima di sisi Allah SWT. Ritual ini sudah ada sejak jaman Hindhu-Budha dengan do’a sesuai agama mereka, termasuk ketika Islam datang.

Tradisi Tahlilan diadakan pada hari ke-1, ke-3, ke-7, ke-40, ke-100, ke-1000, dan 1 tahun setelah kematian, yang disebut dengan istilah mendak. Tradisi ini tidak dilakukan oleh semua daerah di Jawa Timur, melainkan wilayah tertentu saja dan juga aliran tertentu saja.

Adapun istilah-istilah yang kerap dipakai oleh orang Jawa dalam ritual kematian seseorang antara lain sebagai berikut.

a. Geblakan (Surtanah)

 

Merupakan ritual berupa Tahlilan yang diadakan dengan cara mendo’akan orang meninggal pada hari kematiannya.

b. Nelung Dina

Merupakan tradisi Tahlilan yang dilaksanakan pada hari ke-3 setelah kematian, dengan cara mendo’akannya.

c. Mitung Dina

Merupakan prosesi pengiriman do’a untuk arwah orang yang sudah meninggal, pada hari ke-7 sete;ah kematiannya.

d. Matang Puluh

Merupakan acara yang diadakan pada hari ke-40 setelah meninggalnya seseorang, dengan cara mendo’akan arwahnya.

e. Nyatus Dina

Merupakan upacara peringatan 100 hari setelah meninggalnya seseorang, dengan acara pengiriman do’a.

f. Mendak Sepisan

Merupakan tradisi yang diadakan pada 1 tahun setelah hari kematian seseorang, dengan jalan mendo’akannya.

g. Mendak Pindo

Merupakan ritual peringatan 1000 hari kematian seseorang, yang diadakan dengan mengirim do’a kepada arwahnya.

2. Mugguhan (Sa’banan)

20 02 Mugguhan (Sa’banan)

Mungguhan adalah adat kebiasaan masyarakat Jawa Timur yang diadakan tiap kali bulan Sya’ban tiba, dengan tujuan untuk mendo’akan arwah leluhur yang sudah meninggal.

Upacara Adat Kelahiran

1. Pitonan

21 01 Pitonan

Pitonan merupakan acara selametan yang dilakukan oleh sebagian besar masyarakat Jawa Timur, sebagai wujud syukur atas umur anak yang berusia 7 bulan dalam kandungan. Selain itu, lewat proses ini juga diminta supaya Tuhan yang Maha Esa memberi kelancaran pada proses kelahirannya kelak.

2. Babaran

21 02 Babaran

Babaran adalah proses adat yang dilakukan sesudah seorang bayi lahir, sebagai wujud syukur kepada Sang Maha Pencipta atas keselamatan ibu dan bayinya saat melahirkan.

3. Brokohan

21 03 Brokohan

Brokahan adalah ritual saat bayi sudah lahir, yang dilakukan dengan cara mengundang masyarakat sekitar untuk ikut mensyukuri kelahiran bayi tersebut. Umumnya, para tamu undangan akan diberi seporsi nasi tumpeng lengkap dengan lauk-pauknya juga dalam acara ini.

4. Lurung Ari-Ari

21 04 Lurung Ari-Ari

Upacara ini diadakan untuk melarung atau menghanyutkan ari-ari si jabang bayi. Proses ini dilakukan dengan cara menghanyutkan ari-ari tersebut ke laut bersama sebuah kendi, kembang 7 rupa, kain putih, dan jarum.

5. Sepasaran

21 05 Sepasaran

Upacara Sepasaran dilakukan setelah bayi berusia 5 hari, sebagai wujud syukur kepada Tuhan atas momongan yang diberikan.

6. Tedhak Sinten

21 06 Tedhak Sinten

Dalam sebagain masyarakat Jawa Timur, tanah mempunyai kekuatan gaub yang dijaga oleh Bethara Kala. Oleh karenanya, saat anak sudah lahir, perlu dikenalkan dengan bethara kala melalui proses Tedhak Sinten.

7. Sunatan

21 07 Sunatan

Sunatan merupakan prosesi asli dalam Agama Islam, dimana ujung kemaluan anak laki-laki yang beranjak dewasa akan dipotong dalam proses khitanan. Tujuannya adalah supaya pada bagian tersebut tidak menyisakan najis ataupun kotoran saat buang air kecil.

***

Nah, itulah beberapa upacara adat Jawa Timur yang bisa kami bagikan ulasannya. Semoga bermanfaat dan menambah wawasan bagi kita semua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *